Tampilkan postingan dengan label Religi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Religi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 Juni 2010

Fakta Qur’an tentang Konflik Palestina

setidaknya tercatat lebih dari 1100-
an jiwa melayang dan limaribuan
yang lainnya luka-luka.
Mungkin banyak air mata yang
mulai mengering, telinga menjadi
panas, dan hati serasa jenuh
mendengar pemberitaan korban di
Gaza yang terus bertambah. Tapi
kita memang harus terus bicara
tentang Palestina. Kita harus terus
menyuarakan kegelisahan kita,
menyampaikan kepedulian kita,
atau setidaknya meneriakkan
jeritan hati kita melalui takbir dan
doa-doa yang terlantunkan. Tidak
boleh ada perasaan bosan saat
mendengar berita Palestina. Tidak
boleh kita berputus asa dalam
melantunkan doa-doa untuk
saudara kita disana. Tidak boleh
merasa doa kita sia-sia. Tidak
boleh pula kita mengira bahwa
zionis Israel akan dibiarkan dengan
kesombongannya begitu saja.
Karena Allah SWT berfirman : ”
Dan janganlah sekali-kali kamu
(Muhammad) mengira, bahwa
Allah lalai dari apa yang diperbuat
oleh orang-orang yang zalim.
Sesungguhnya Allah memberi
tangguh kepada mereka sampai
hari yang pada waktu itu mata
(mereka) terbelalak ” (QS Ibrahim
42)
Hari ini kita melihat pemberitaan
yang begitu beragam tentang
fakta-fakta yang terjadi di Palestina.
Ada yang mengutuk kekejian
Israel, ada pula yang memprotes
keangkuhan Amerika, Ada pula
yang mengkritik pemimpin Arab
yang ‘jubana’ (pengecut), bahkan
ada pula yang tetap konsisten
memberitakan Hamas sebagai
teroris dan biang kerok semua
permasalahan ini. Semuanya
begitu kompleks dan
membingungkan, sehingga
banyak orang yang begitu
bersedih dan berempati dengan
pemandangan gambar-gambar
korban dan ledakan, namun sedikit
yang mengetahui hakikat
permasalahan dan fakta yang
shohih di Palestina.
Karenanya, kita perlu memetakan
lebih jelas tentang permasalahan
Palestina. Saya ingin
mengungkapkan fakta-fakta dalam
al-Quran dalam memetakan
masalah ini. Bahwasanya Al-Quran
jauh-jauh hari telah
menggambarkan fakta-fakta yang
terjadi hari ini di Palestina melalui
ayat-ayatnya yang mulia. Ini
semua penting agar kita bisa
berpikir lebih mendalam, lebih
strategis dan lebih fokus dalam
menyusun langkah kontribusi kita
untuk Palestina. Agar kita tidak
reaktif dan mudah terkejut, dan
selalu shock dalam mendengar
pemberitaan masalah Palestina.
Berikut fakta-fakta yang telah
digambarkan Al-Quran, dan
sekarang terjadi begitu nyata di
Palestina.
Fakta 1 : Adanya Yahudi yang Sadis
& Bengis terhadap orang muslim,
serta senantiasa melanggar
perjanjian Allah SWT berfirman :
“ Sesungguhnya kamu dapati
orang-orang yang paling keras
permusuhannya terhadap orang-
orang yang beriman ialah orang-
orang Yahudi dan orang-orang
musyrik ”.(Al-Maidah 82).
Ketika Al-Quran 14 abad yang lalu
telah jelas menyatakan fakta
bahwa Yahudi menyimpan
permusuhan yang amat keras
terhadap umat Islam, maka hari ini
kita menyaksikan dengan jelas
gambaran permusuhan itu begitu
nyata di depan mata kita. Jika
’ sekedar’ menghitung angka
korban jiwa dan luka-luka
mungkin belum mewakili
gambaran kebuasan mereka. Ada
gambaran yang lebih buas dari
hitungan angka-angka, saat Shadr
seorang perempuan kecil berumur
4 tahun harus tewas
menyongsong peluru tentara
Israel di dadanya. Bahkan sang
ayah tidak bisa menyelamatkan
jasad putrinya, karena beberapa
detik berikutnya datang
sekumpulan anjing-anjing pelacak
Israel untuk segera menyantap si
kecil yang syahid itu. Seolah-olah
tentara Israel itu memang
membidikkan pelurunya untuk
berburu makanan bagi anjing
peliharaannya.
Gambaran lain tak kalah
mengerikannya adalah saat tubuh-
tubuh yang tak bernyawa di
tengah jalan harus remuk terlindas
oleh tank-tank zionis yang
bergerak memasuki gaza. Begitu
pula penggunaan senjata fosfor
putih oleh tentara Israel yang tidak
pernah ditemukan dalam kamus
kekejaman bangsa lainnya. Adakah
kebiadabaan manusia yang
melebihi gambaran di atas ? Fakta
Al-Quran tentang kebengisan
Yahudi ini membuat kita sadar,
bagaimana cara terbaik
menghadapi Zionis Israel.
Kemudian dalam ayat yang lain
Allah SWT memberitahukan
kepada Rasulullah SAW tentang
karakter Yahudi : ” (Yaitu) orang-
orang yang kamu telah
mengambil perjanjian dari mereka,
sesudah itu mereka mengkhianati
janjinya pada setiap kalinya, dan
mereka tidak takut (akibat-
akibatnya ”). (Al-Anfal 56). Inilah
fakta lain tentang Yahudi yang
sudah diungkapkan Al-Quran sejak
awal risalah Islam. Karenanya akan
sangat aneh jika masih ada
pemimpin Islam yang berharap
banyak untuk mengadakan
perjanjian dengan Israel, seolah-
olah lupa dengan Fakta Quran dan
fakta sejarah kenabian. Jika kita
membaca ulang sejarah Yahudi
dalam Siroh Nabawiyah, maka
akan ada kesimpulan utuh bahwa
sejarah Yahudi adalah sejarah
pembangkangan dan
penghianatan.
Fakta 2 : Adanya kaum muslimin
yang terusir dan terbunuh di
Palestina karena keyakinan mereka
berislam. Allah SWT berfirman : ..
(yaitu) orang-orang yang telah
diusir dari kampung halaman
mereka tanpa alasan yang benar,
kecuali karena mereka berkata:
“ Tuhan kami hanyalah Allah.” (QS
Haj 40)
Al-Quran begitu jelas
menggambarkan fakta adanya
orang-orang yang terusir dan
teraniaya ‘hanya’ karena mereka
teguh memegang aqidah mereka.
Penderitaan penduduk Palestina
hari ini –dan sejak setengah abad
yang lampau- adalah bukti riil fakta
al-Quran di atas. Mereka teguh
dengan agama mereka, yakin
dengan kemuliaan Islam,
karenanya mereka tidak rela Masjid
Al-Aqsho dikuasai Zionis Israel.
Maka merekapun bertahan,
merekapun melawan,
mempertahankan sejengkal tanah
kemuliaan Islam dari jajahan
zionis. Karena semua alasan mulia
itulah hari ini banyak warga
Palestina meregang nyawa.
Fakta 3 : Adanya Skenario Global di
balik konflik Palestina . Allah SWT
berfirman : Orang-orang Yahudi
dan Nasrani tidak akan senang
kepada kamu hingga kamu
mengikuti agama mereka (Al
Baqoroh 120)
Dibalik fakta keangkuhan Israel hari
ini, adalah karena adanya
dukungan setia Amerika. Bahkan
kita lihat titik balik keberadaan
negara Israel di Palestina, adalah
karena kebaikan hati Inggris
kepada kaum Yahudi, sekaligus
kebencian mereka terhadap Islam.
Dua negara besar ini selalu
konsisten mendukung Zionis
Israel. Bukan hanya teknis
persenjataan yang selalu disuplai,
tetapi juga kebijakan-kebijakan
perdamaian dan juga ‘
pengkhianatan’ perdamaian yang
selalu diamankan oleh Amerika.
Resolusi PBB untuk gencatan
senjata sepekan lalu –dengan
abstainnya Amerika- adalah salah
satu keajaiban dunia yang
menyalahi sejarah konsistensi
dukungan Amerika terhadap Israel.
Biasanya Amerika akan dengan
mudah memveto setiap kebijakan
yang merugikan zionis, adik tirinya
tersebut. Tapi tidak ada yang
berubah dari Amerika, berita hari
ini menyebutkan pertemuan dua
Menlu AS-Israel ; Condolize Reece
dan Tzipi Livni yang mengukuhkan
kesepakatan untuk menghalangi
sekuat tenaga masuknya
dukungan persenjataan ke
Palestina. Jadi, tidak ada yang salah
dengan fakta Al-Quran.
Fakta 4 : Adanya Benih-benih
kemunafikan yang mengganggu
perjuangan Jihad. Allah SWT
berfirman : Apakah kamu tidak
memperhatikan orang-orang
munafik yang berkata kepada
saudara-saudara mereka yang
kafir di antara ahli kitab:
“ Sesungguhnya jika kamu diusir
niscaya kamipun akan keluar
bersamamu; dan kami selama-
lamanya tidak akan patuh kepada
siapapun untuk (menyusahkan)
kamu, dan jika kamu diperangi
pasti kami akan membantu kamu
…”(Al-Hasyr 11)
Fakta Al-Quran dan juga fakta
sejarah kenabian selalu
mengingatkan kita adanya bahaya
dari dalam. Jangankan hari ini saat
umat Islam dalam kondisi lemah
dan terpecah, bahkan di barisan
pasukan Rasulullah SAW di
Madinah pun bercokol sekelompok
munafik yang terus aktif
menghasut dan menghancurkan
kaum muslimin dari dalam. Masih
ingat bukan peperangan Uhud,
saat 300 dari 1000 pasukan
rasulullah SAW membelot
mundur ke Madinah karena
kecewa dengan keputusan
Rasulullah SAW ?
Maka hari ini kita menyaksikan
adanya dua negara arab besar
yang memboikot KTT darurat Liga
Arab di Dhoha, Qatar yang
sedianya direncanakan
menghasilkan keputusan yang
‘keras’ dan efektif untuk
menghentikan kebiadaban Israel.
Adakah ungkapan yang lebih halus
untuk mengganti kata
‘ kemunafikan’ bagi kedua bangsa
tersebut ?.
Belum lagi masalah perbatasan
Rafah yang masih saja ditutup oleh
pemerintah Mesir. Sehingga
dukungan kemanusiaan, apalagi
mujahidin dan persenjataan tidak
bisa menjangkau Gaza. Kisahnya
sangat berkebalikan dengan yang
terjadi di Afghanistan saat
melawan Uni Soviet duapuluh
tahun yang lampau, saat Pakistan
membuka perbatasannya untuk
masuknya mujahidin dan
persenjataanya ke Afhanistan.
Hari ini pemerintah Mesir menjadi
‘ bemper’ pelindung Zionis Israel
dari masuknya solidaritas muslim
internasional. Begitu pula saat
bicara dengan pemimpin-
pemimpin Arab, Husni Mubarok
sekuat tenaga meyakinkan teman-
temannya untuk tetap lunak pada
Israel. Tanpa sadar, nampaknya
presiden ‘Husni Mubarok’ ingin
mengulangi kelakuan Abdullah bin
Ubay yang mati-matian membela
Yahudi Bani Qainuqo ’ saat
Rasulullah SAW akan memberikan
sanksi atas pengkhianatan yang
mereka lakukan pada konstitusi
Madinah. Nah, adakah ungkapan
yang lebih halus dari ‘kemunafikan’
untuk menggambarkan sikap
tersebut ?
Fakta 5 : Ada banyak kaum banyak
kaum muslimin lemah tidak
berdaya . Ada perubahan besar
terjadi pada gaya hidup sebagian
besar kaum muslimin paska
tumbangnya kekhalifahan
Utsmaniyah di Turki. Banyak
negara muslimin dijajah oleh
negara-negara Barat dan
penduduknya pun mulai
mengadopsi pemikiran dan gaya
hidup Barat yang materialis.
Akibatnya, cinta harta dan dunia
mulai mengakar dalam kehidupan
kaum muslimin.
Pada saat itulah, jihad yang
membentengi kemuliaan Islam
mulai tergerogoti. Al-Quran telah
menggambarkan fakta tersebut
dengan jelas .. Allah SWT
berfirman : Hai orang-orang yang
beriman, apakah sebabnya bila
dikatakan kepadamu: “Berangkatlah
(untuk berperang) pada jalan Allah”
kamu merasa berat dan ingin
tinggal di tempatmu? Apakah
kamu puas dengan kehidupan di
dunia sebagai ganti kehidupan di
akhirat? Padahal kenikmatan hidup
di dunia ini (dibandingkan dengan
kehidupan) diakhirat hanyalah
sedikit ” ( At-Taubah 38 )
Kelemahan inilah yang segera
ditangkap oleh musuh-musuh
Islam. Mereka kini lebih berani
dalam menganiaya dan
menginjak-injak negeri Islam
karena merasa ‘aman’ dengan
lemahnya semangat kaum
muslimin dalam berjihad. Lihat
saja penyerangan secara
sistematis pada negeri muslim
dalam dua warsa terakhir ini. Dari
mulai Afghanistan, Irak, Palestina,
hingga negara-negara yang masuk
dalam daftar tunggu penyerangan
seperti ; Iran, Sudan dan Suriah.
Gambaran seperti inilah yang juga
terjadi di Palestina, keangkuhan
Israel dalam membombardir
Palestina dengan penuh percaya
diri, salah satunya karena mereka
yakin tidak ada satu negara
muslim pun yang berani
mengirimkan pasukannya
membela Palestina atas nama
jihad. Negara-negara muslim
dalam kondisi lemah dan takut
menghadapi balasan Amerika dan
sekutunya face to face. Akhirnya
Israel melenggang begitu
nyamannya dalam menebar bom
cluster di bumi Palestina. Tidak ada
pembelaan dari negara-negara
muslim tetangganya. Hizbullah
Libanon pun malu-malu untuk
mengirimkan roketnya ke wilayah
Israel. Bahkan Iran yang sempat
‘ berkoar-koar’ pun belum
sekalipun mengarahkan roketnya
ke Israel. Sudan yang dipimpin
oleh Jenderal Mujahid pun harus
berdiam diri karena sibuk dengan
konflik Darfur yang juga
disutradari Amerika.
Inilah kenyataan hari ini, dan ini
pulalah yang sudah diprediksi oleh
Rasulullah SAW dalam haditsnya,
bahwa umat Islam akan menjadi
santapan bangsa-bangsa lain di
akhir zaman. Bukan karena jumlah
mereka yang sedikit, bahkan
banyak, tapi bagaikan buih yang
terombang ambing lemah tak
berdaya. Semua ini karena umat
Islam terjangkiti sindrom wahn,
yang dijelaskan oleh Rasulullah
SAW : ” Cinta dunia dan takut mati
” (HR Abu Daud)
Fakta 6 : Ada kelompok yang
senantiasa mengusung tinggi jihad
untuk menegakkan kalimatullah
tanpa ragu dan gentar. Allah SWT
berfirman : Di antara orang-orang
mukmin itu ada orang-orang yang
menepati apa yang telah mereka
janjikan kepada Allah; maka di
antara mereka ada yang gugur.
Dan di antara mereka ada (pula)
yang menunggu- nunggu dan
mereka tidak merobah (janjinya)
(QS Al Ahzab 23).
Al-Quran, menyebutkan fakta akan
adanya golongan yang senantiasa
’ setia’ untuk memperjuangkan
kejayaan Islam. Bahkan meskipun
diantara mereka banyak yang telah
berguguran, tidak sedikitpun
membuat komitmen mereka
untuk berjihad mundur dan luntur.
Hari ini tidak bisa dipungkiri bahwa
Hamas tampil sebagai gambaran
riil fakta Al-Quran tersebut.
Tuduhan organisasi teroris tidak
membuatnya gentar sejengkalpun.
Pemborbardiran Zionis Israel
disambut dengan perlawanan
sekuat tenaga. Petinggi Hamas
Kholid Meshal dalam banyak
kesempatan senantiasa
mengulang-ulang sikap Hamas
yang tidak akan mundur dalam
mempertahankan Gaza.
Logika mana yang bisa
menjelaskan Hamas yang awalnya
adalah sebuah organisasi massa
Islam, kini bertarung dengan
gagah melawan Zionis Israel yang
mempunyai kekuatan militer
terkuat di Timur Tengah ? .
Kesimpulan paling mudah yang
kita tangkap adalah ‘ konsistensi’
Hamas dalam berjihad, itulah yang
membuat mereka tetap eksis dan
terus melawan. Ruh Jihad menjadi
semacam jaminan bagi kekuatan
sekecil apapun untuk melawan
kekuatan sebesar apapun.
Bukankah Allah SWT berfirman :
“ Berapa banyak terjadi golongan
yang sedikit dapat mengalahkan
golongan yang banyak dengan izin
Allah.(QS Al-Baqoroh 249)
Akhirnya, semua ungkapan dan
isyarat kekaguman dan
penghormatan, entah itu standing
avocation, apllause, angkat topi,
hormat tangan, atau apa saja yang
bisa mengungkapkan kekaguman
sangatlah layak diberikan pada
Hamas. Setelah kagum, tentu saja
kita juga harus menjadi bagian
yang mendukung perjuangan
jihad tersebut. Siapa yang bisa
menahan keinginan untuk tidak
bergabung dalam barisan pembela
kebenaran yang telah dijamin
eksistensinya oleh Rasulullah.
Tidaklah berlebihan, jika dikatakan
fenomena Hamas hari ini adalah
bukti riil keberadaan kelompok
jihad abadi di muka bumi ini,
sebagaimana Rasulullah SAW
bersabda : ” Akan senantiasa ada
segolongan dari umatku yang
tegak memperjuangkan
kebenaran, dan mereka tidak akan
terpengaruh dengan orang-orang
yang memusuhi dan memerangi
mereka “. (HR Muslim). Ketika
Rasulullah SAW ditanya oleh
sahabat tentang siapa mereka itu ?.
Maka beliau menjawab : ” di sekitar
masjid al-Aqsha”. Subhanallah

Kamis, 14 Januari 2010

Daftar situs dan blog yang perlu dihancurkan karena menghina ISLAM

Ini daftar Situs dan Blog yang
menghina Islam.....
http://thereligionofpeace.com/
http://inthenameofallah.org/
http://
kebohongandariislam.wordpress
.com/
http://mengenal-
islam.t35.com/
http://islam-watch.org/
http://6thcoloumnagainstjihad.
com /
http://
muslimjourneytohope.com/
http://abrahamic-faith.com/
http://atheism.about.com/
http://
allaboutmuhammad.com/
http://www.amilimani.com/
http://
www.answeringislam.com/
http://answeringinfidels.com/
http://www.antiislam.com/
http://www.anti-cair.com/
http://
www.apostatesofislam.com/
http://ci-ce-ct.com/
http://
danishmuhammedcartoons.com
/
http://
www.derafshkaviyani.com/
http://www.faithfreedom.org
http://
indonesia.faithfreedom.org/
forum/
http://fatherzakaria.net/
http://
www.investigateislam.com/
http://www.submission.org/
http://www.islamreview.com/
http://
www.quikmaneuvers.com/
islam_undressed.html
http://www.jihadwatch.org/
http://prophetofdoom.net/
http://
islamexpose.blogspot.com/
http://
alquranbautai.multiply.com
http://
admin2i2h.blogspot.com/
http://islamlies.com/
http://mengenal-
islam.forumphp3.com/
http://
islamidiot.wordpress.com
http://
muhammadrasul.multiply.com/
Ada yang mau nambahin????
Tambahan
http://
exmuslim.wordpress.com/
http://
trulyislam.blogspot.com/
http://alirhab89.multiply.com/
http://
fadlunbanciclub.multiply.com/
http://
bakaralquran.multiply.com/
http://
oknoaryanto.multiply.com/
http://idlische.multiply.com/
http://
swaranonmuslim.blogspot.com/
http://
reogjhatillan.multiply.com/
http://
vf0rvendetta.multiply.com/
http://
phoenixity.multiply.com/
http://islamundressed.com/
http://
bataktobahero.multiply.com/feed
http://
cowogagap.multiply.com/
http://
nabimuhamad.multiply.com/
http://
ibnukammuna.multiply.com/
http://pechler.multiply.com/
http://islamologi.multiply.com/
http://
muhammadphedophil.multiply.
com/
http://
gaymuslim.multiply.com/
http://latifabdul.multiply.com/
http://
mrnoxious.multiply.com/
journal/item/121/
All_About_Mr._Latif_Abdul
http://
jigongmerangkak.multiply.com/
http://febrina.wordpress.com/
http://2i2h.multiply.com/
journal/item/244?
mark_read=2i2h:journal:244#
replyform
http://ilovebush.multiply.com/
http://
wariaclubokno.multiply.com/
http://
muhamadadullah.multiply.com/
http://heru11.multiply.com/
http://
muslimkatro.multiply.com/
http://syurga-
islam.blogspot.com/2008/03/
mukjizat-terbesar-saw-adalah-
sex.html
http://
kesalahanquran.multiply.com/
http://
banciclubfadlun.multiply.com/
http://
shadowkick.multiply.com/
http://
mrnoxiousreaction.multiply.com
/
http://alhamas.multiply.com/
http://
exitmuslim.multiply.com/
http://exmuslim.multiply.com/

Minggu, 10 Januari 2010

Pengertian Dan Tata Cara Sholat Yang Benar Oleh: DR. Amir Faishol Fath

Shalat adalah ibadah yang terpenting
dan utama dalam Islam. Dalam
deretan rukun Islam Rasulullah saw.
menyebutnya sebagai yang kedua
setelah mengucapkan dua kalimah
syahadat (syahadatain). Rasullah
bersabda, “Islam dibangun atas lima
pilar: bersaksi bahwa tiada tuhan
selain Allah dan Muhammad adalah
utusan Allah, menegakkan shalat,
membayar zakat, berhajji ke ka ’bah
baitullah dan puasa di bulan
Ramadlan. ” (HR. Bukhari, No.8 dan
HR. Muslim No.16).
Ketika ditanya Malaikat Jibril
mengenai Islam, Rasullah saw. lagi-
lagi menyebut shalat pada deretan
yang kedua setelah syahadatain (HR.
Muslim, No.8). Orang yang
mengingkari salah satu dari rukun
Islam, otomatis menjadi murtad
(keluar dari Islam). Abu Bakar Ash
Shidiq ra. ketika menjabat sebagai
khalifah setelah Rasullah saw. wafat,
pernah dihebohkan oleh
sekelompok orang yang menolak
zakat. Bagi Abu Bakar mereka telah
murtad, maka wajib diperangi. Para
sahabat bergerak memerangi
mereka. Peristiwa itu terkenal
dengan harbul murtaddin. Ini baru
manolak zakat, apalagi menolak
shalat.
Ketika menyebutkan ciri-ciri orang
yang bertakwa pada awal surah Al-
Baqarah, Allah menerangkan bahwa
menegakkan ibadah shalat adalah
ciri kedua setelah beriman kepada
yang ghaib (Al-Baqarah: 3). Dari
proses bagaimana ibadah shalat ini
disyariatkan –lewat kejadian yang
sangat agung dan kita kenal dengan
peristiwa Isra ’ Mi’raj– Rasulullah
saw. tidak menerima melalui
perantara Malaikat Jibril, melainkan
Allah swt. langsung
mengajarkannya. Dari sini tampak
dengan jelas keagungan ibadah
shalat. Bahwa shalat bukan masalah
ijtihadi (baca: hasil kerangan otak
manusia yang bisa ditambah dan
diklurangi) melainkan masalah
ta ’abbudi (baca: harus diterima apa
adanya dengan penuh keta’atan).
Sekecil apapun yang akan kita
lakukan dalam shalat harus sesuai
dengan apa yang diajarkan Allah
langsung kepada Rasul-Nya, dan
yang diajarkan Rasulullah saw.
kepada kita.
Bila dalam ibadah haji Rasulullah
saw. bersabda, “Ambillah dariku
cara melaksanakan manasik
hajimu ”, maka dalam shalat Rasullah
bersabda, “shalatlah sebagaiman
kamu melihat aku shalat”. Untuk
menjelaskan bagaimana cara
Rasullah saw. melaksanakan shalat,
paling tidak ada dua dimensi yang
bisa diuraikan dalam pembahasan
ini: dimensi ritual dan dimensi
spiritual.
Dimensi Ritual Shalat
Dimensi ritual shalat adalah tata cara
pelaksanaannya, termasuk di
dalamnya berapa rakaat dan kapan
waktu masing-masing shalat
(shubuh, zhuhur, ashar, maghrib,
isya ’) yang harus ditegakkan. Dalam
hal ini tidak ada seorang pun dari
sahabat Rasulullah saw., apa lagi
ulama, yang mencoba-coba
berusaha merevisi atau
menginovasi. Umpamnya yang
empat rakaat dikurangi menjadi tiga,
yang tiga ditambah menjadi lima,
yang dua ditambah menjadi empat
dan lain sebagainya.
Dalam segi waktu pun tidak ada
seorang ulama yang berani
menggeser. Katakanlah waktu shalat
Zhuhur digeser ke waktu dhuha,
waktu shalat Maghrib digeser ke
Ashar dan sebagainya (perhatikan:
An-Nisa’: 103). Artinya shalat
seorang tidak dianggap sah bila
dilakukan sebelum waktunya atau
kurang dari jumlah rakakat yang
telah ditentukan. Dalam konteks ini
tentu tidak bisa beralasan dengan
shalat qashar (memendekkan
jumlah rakaat) atau jama’ taqdim
dan ta’khir (menggabung dua shalat
seperti dzhuhur dengan ashar:
diawalkan atau diakhirkan) karena
masing-masing dari cara ini ada
nashnya (baca: tuntunan dari
Alquran dan sunnah Rasullah saw.;
An-Nisa ’: 101), dan itupun tidak
setiap saat, melainkan hanya pada
waktu-waktu tertentu sesuai dengan
kondisi yang tercantum dalam nash.
Apa yang dibaca dalam shalat juga
tercakup dalam tata cara ini dan
harus mengikuti tuntunan
Rasulullah. Jadi tidak bisa membaca
apa saja seenaknya. Bila Rasullah
memerintahkan agar kita harus
shalat seperti beliau shalat, maka
tidak ada alasan lagi bagi kita untuk
menambah-nambah. Termasuk
dalam hal menambah adalah
membaca terjemahan secara
terang-terangan dalam setiap
bacaan yang dibaca dalam shalat.
Karena sepanjang pengetahuan
penulis tidak ada nash yang
memerintahkan untuk juga
membaca terjemahan bacaan dalam
shalat, melainkan hanya perintah
bahwa kita harus mengikuti Rasullah
secara ta’abbudi dalam melakukan
shalat ini.
Mungkin seorang mengatakan,
benar kita harus mengikuti Rasullah,
tapi bagaimana kalau kita tidak
mengerti apa makna bacaan yang
kita baca dalam shalat? Bukankah itu
justru akan mengurangi nilai ibadah
shalat itu sendiri? Dan kita hadir
dalam shalat menjadi seperti burung
beo, mengucapkan sesuatu tetapi
tidak paham apa yang kita ucapkan?
Untuk mengerti bacaan dalam
shalat, caranya tidak mesti dengan
membaca terjemahannya ketika
shalat, melainkan Anda bisa
melakukannya di luar shalat. Sebab,
tindakan membaca terjemahan
dalam shalat seperti tindakan
seorang pelajar yang menyontek
jawaban dalam ruang ujian. Bila
menyontek, jawaban merusak ujian
pelajar. Membaca terjemahan dalam
shalat juga merusak shalat. Bila si
pelajar beralasan bahwa ia tidak bisa
menjawab kalau tidak nyontek, kita
menjawab Anda salah mengapa
tidak belajar sebelum masuk ke
ruang ujian. Demikian juga bila
seorang beralasan bahwa ia tidak
mengerti kalau tidak membaca
terjemahan dalam shalat, kita jawab,
Anda salah mengapa Anda tidak
belajar memahami bacaan tersebut
di luar shalat. Mengapa Anda harus
dengan mengorbankan shalat, demi
memahami bacaan yang Anda baca
dalam shalat? Wong itu bisa Anda
lakukan di luar shalat.
Pentingnya mengikuti cara Rasullah
bershalat, ternyata bukan hanya bisa
dipahami dari hadits tersebut di atas,
melainkan dalam teks-teks Alquran
sangat nampak dengan jelas. Dari
segi bahasa dan gaya ungkap
Alquran selalu menggunakan
“ aqiimush shalaata” (tegakkankanlah
shalat) atau “yuqiimunash
sahalat” (menegakkan shalat).
Menariknya, ungkapan seperti ini
juga digunakan Rasullah saw. Pada
hadits mengenai pertemuannya
dengan Malaikat Jibril, Rasullah
bersabda: “watuqiimush
shalata“ (HR. Muslim No.8) dan pada
hadits mengenai pilar-pilar Islam
bersabda: “waiqaamish shalati “.
(HR. Bukahri No.8 dan HR. Muslim
No.16)
Apa makna dari aqiimu atau
yuqiimu di sini? Mengapa kok tidak
langsung mengatakan shallu
(bershalatlah) atau yushalluuna
(mereka bershalat)? Para ahli tafsir
bersepakat bahwa dalam kata
aqiimu atau yuqiimuuna
mengandung makna penegasan
bahwa shalat itu harus ditegakkan
secara sempurna: baik secara ritual
dengan memenuhi syarat dan
rukunnya, tanpa sedikitpun
mengurangi atau menambah,
maupun secara spiritual dengan
melakukannya secara khusyuk
seperti Rasulullah saw.
melakukannya dengan penuh
kekhusyukan. Masalah khusyu ’
adalah pembahasan dimensi
spiritual shalat yang akan kita
bicarakan setelah ini.
Dimensi Spiritual Shalat
Mengikuti cara Rasulullah saw. shalat
tidak cukup hanya dengan
menyempurkan dimensi ritulanya
saja, melainkan harus juga diikuti
dengan menyempurnakan dimensi
spritualnya. Ibarat jasad dengan
ruh, memang seorang bisa hidup
bila hanya memenuhi kebutuhan
jasadnya, namun sungguh tidak
sempurna bila ruhnya dibiarkan
meronta-meronta tanpa dipenuhi
kebutuhannya. Demikian juga
shalat, memang secara fikih shalat
Anda sah bila memenuhi syarat dan
ruku ’nya secara ritual, tapi apa
makna shalat Anda bila tidak diikuti
dengan kekhusyukan. Perihal
kekhusyukan ini Alquran telah
menjelaskan, “Dan mohonlah
pertolongan (kepada Allah) dengan
sabar dan shalat, dan
sesungguhnya shalat itu sangat
berat kecuali bagi mereka yang
khusyu. ” (Al-Baqarah: 45)
Imam Ibn Katsir, ketika menafsirkan
ayat ini, menyebutkan pendapat
para ulama salaf mengenai makna
khusyu ’ dalam shalat: Mujahid
mengatakan, itu suatu gambaran
keimanan yang hakiki. Abul Aliyah
menyebut, alkhasyi ’in adalah orang
yang dipenuhi rasa takut kepada
Allah. Muqatil bin
Hayyanperpendapat, alkhasyi ’in itu
orang yang penuh tawadhu’.
Dhahhaq mengatakan, alkhasyi’en
merupakan orang yang benar-benar
tunduk penuh ketaatan dan
ketakutan kepada Allah. (Ibn Katsir,
Tafsirul Qur ’anil azhim, Bairut, Darul
fikr, 1986, vol. 1, h.133)
Dan pada dasarnya shalat –seperti
yang digambarkan Ustadz Sayyid
Quthub – adalah hubungan antara
hamba dan Tuhannya yang dapat
menguatkan hati, membekali
keyakinan untuk menghadapi segala
kenyataan yang harus dilalui.
Rasulullah saw. –kata Sayyid- setiap
kali menghadapi persoalan, selalu
segara melaksanakan shalat. (Sayyid
Quthub, fii zhilalil Qur ’an, Bairut,
Darusy syuruuq, 1985, vol. 1, h. 69)
Dalam hal ini tentu shalat yang
dimaksud bukan sekedar shalat,
melainkan shalat yang benar-benar
ditegakkan secara sempurna:
memenuhi syarat dan rukunnya,
lebih dari itu penuh dengan
kekhusyukan. Karena hanya shalat
yang seperti inilah yang akan benar-
benar memberikan ketenangan
yang hakiki pada ruhani, dan benar-
benar melahirkan sikap moral yang
tinggi, seperti yang dinyatakan
dalam Alquran: “dan dirikanlah
shalat. Sesungguhnya shalat itu
mencegah dari (perbuatan-
perbuatan) keji dan mungkar ”. (Al-
Ankabut: 45)
Jelas, bahwa hanya shalat yang
khusyu ’ yang akan membimbing
pelaksananya pada ketenangan dan
kemuliaan perilaku. Oleh sebab itu
para ulama terdahulu selalu
mengajarkan bagimana kita
menegakkan shalat dengan penuh
kekhusyukan. Imam As-
Samarqandi dalam bukunya
tanbihul ghafiliin, menulis bab
khusus dengan judul: Bab
itmamush shalaati wal khusyu’u
fiihaa (Bab menyempurkan dan
khusyuk dalam shalat). Disebutkan
dalam buku ini bahwa orang yang
sembahyang banyak, tetapi orang
yang menegakkan shalat secara
sempurna sedikit. (As Samarqandi,
Tanbihul ghafiliin, Bairut, Darul Kitab
al ’Araby, 2002, h. 293)
Imam As-Samarqandi benar. Kini
kita menyaksikan orang-orang
shalat di mana-mana. Tetapi, berapa
dari mereka yang benar-benar
menikmati buah shalatnya, menjaga
diri dari perbuatan keji, perzinaan,
korupsi dan lain sebagainya yang
termasuk dalam kategori munkar.
Antara Ritual dan Spritual
Ketika Rasulullah saw.
memerintahkan agar kita mengikuti
shalat seperti yang beliau lakukan,
itu maksudnya mengikuti secara
sempurna: ritual dan spiritual. Ritual
artinya menegakkan secara benar
syarat dan rukunnya, spiritual
artinya melaksanakannya dengan
penuh keikhlsan, ketundukan dan
kekhusyukan.
Kedua dimiensi itu adalah satu
kesatuan tak terpisahkan. Satu
dimensi hilang, maka shalat Anda
tidak sempurna. Bila Anda hanya
mengutamakan yang spiritual saja,
dengan mengabaikan yang ritual
(seperti tidak mengkuti cara-cara
shalat Rasulluah secara benar,
menambahkan atau mengurangi,
atau meniggalkannya sema sekali)
itu tidak sah. Dengan bahasa lain,
shalat yang ditambah dengan
menerjemahkan setiap bacaannya
ke dalam bahasa Indonesia, itu
bukan shalat yang dicontohkan
Rasullah. Maka, itu tidak disebut
shalat, apapun alasan dan
tujuannya.
Sebaliknya, bila yang Anda
utamakan hanya yang ritual saja
dengan mengabaikan yang spiritual,
boleh jadi shalat Anda sah secara
fikih. Tetapi, tidak akan membawa
dampak apa-apa pada diri Anda.
Karena yang Anda ambil hanya
gerakan shalatnya saja. Sementara
ruhani shalat itu Anda campakkan
begitu saja. Bahkan bila yang anda
abaikan dari dimensi spiritual shalat
itu adalah keikhlasan, akibatnya fatal.
Shalat Anda menjadi tidak bernilai
apa-apa di sisi-Nya. Na ’udzubillahi
mindzaalika. Wallahu A’lam bish
shawab.